Sabtu, 27 November 2010

Nasib VCD Player, Dibuang Sayang Dipakai Jarang

Penulis: Mbak Venus

Jakarta - Satu unit VCD player yang saya beli belasan tahun yang lalu, masih saya simpan sampai sekarang. Entah kenapa, ada sedikit perasaan eman-eman. Rasanya sayang mau dihibahkan ke orang.

Padahal untuk perangkat elektronik lain, kalau kemudian saya punya generasinya yang lebih baru dan lebih canggih, dengan senang hati, biasanya yang lama saya berikan ke siapa pun yang bersedia menerima. Tapi yang satu ini, beneran sayang.

Mungkin yang membedakannya, karena VCD player ini adalah piranti pemutar film pertama yang mampu saya beli dengan uang sendiri waktu itu. Saya bahkan masih ingat judul-judul film VCD yang saya beli dan tonton di rumah hari itu sampai tengah malam. Saking senangnya punya VCD player.

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, siapa jugalah yang mau menerima hibahan benda tua ini, ya?

Hampir semua keluarga sekarang sudah punya DVD player. Bahkan, yang belum berkeluarga dan tinggal di kost atau kontrakan pun pasti punya. Kalau tidak, orang biasanya nonton film di laptop masing-masing.

Harganya juga murah banget. Di brosur-brosur pasar swalayan –-yang biasanya juga menjual barang elektronik—- harga DVD Player hanya di kisaran ratusan ribu rupiah.

Dan meski VCD Player saya masih berfungsi dengan baik, memangnya masih ada orang beli VCD kalau mau nonton sesuatu?

Sebenarnya ada satu lagi yang ‘dibuang sayang’. Ada tape recorder lama, yang kebetulan, satu set speakernya dirancang terpisah. Dan seperti semua tape recorder pada umumnya, kita juga bisa mendengarkan siaran radio lewat perangkat ini.

Jadi, walaupun kotak pemutar kasetnya mungkin sudah karatan karena tidak pernah dipakai, radionya masih setia menemani hari-hari saya. Speakernya, karena kualitasnya lumayan, saya manfaatkan juga kalau sedang bosan dengan earphones dan headphones.

Jadi begitulah. Setiap kali ada niatan untuk menyingkirkan saja benda-benda jadul penuh kenangan ini, selalu saja akhirnya niat itu saya urungkan. Sudahlah, disimpan saja buat kenang-kenangan.

BUDAYA SINGKRITISME

In Merapi We Trust

________________________________________________
Singkritisme Budaya Jawa dan Islam


Kabut berwarna putih tebal tampak masih menyelimuti kawasan Gunung Merapi pada Selasa pagi 13 Juli lalu. Matahari yang sedianya muncul pukul enam pagi belum menampakkan diri di lereng gunung berketinggian 2.968 meter ini. Perpaduan kabut yang tebal dan matahari yang masih bersembunyi di balik awan membuat penduduk setempat menggunakan jaket tebal untuk menghalau hawa dingin menusuk tulang. Beberapa orang bahkan tampak menggosok-gosokkan telapak tangan sekedar untuk memberi kehangatan sementara di tubuh mereka.

Tak seperti kebanyakan penduduk yang pagi itu merasakan kedinginan, beberapa orang paruh baya justru mulai mempersiapkan diri untuk mendaki Gunung Merapi yang kondisinya jelas lebih dingin. Para pria paruh baya yang siap mendaki mengenakan pakaian sorjan bercorak biru dan hitam dengan mengenakan blangkon khas Jogja yang memiliki mondolan atau semacam jendolan di belakang blangkon yang merupakan pembeda antara blangkon Solo dengan Jogja.

Sementara itu para wanita paruh baya mengenakan kebaya berwarna hitam polos dengan bawahan kain, beberapa diantaranya juga menyanggul rambutnya dengan rapi. Mereka adalah Abdi Dalem Kawasan Merapi yang pagi itu akan melawan hawa dingin dan terjalnya jalur pendakian Gunung Merapi untuk melaksanakan upacara sakral tahunan bernama Labuhan Merapi.

Upacara adat Labuhan Merapi merupakan sebuah ritual untuk memperingati Jumenengen Ndalem (naik tahta) Sri Sultan Hamengkubuwono X yang dilaksanakan setiap tanggal 30 Rejeb atau menjelang tanggal 1 Ruwah pada tanggalan Jawa. Setiap tahun ada dua tempat yang dijadikan tempat Labuhan, Pantai Parangkusumo merupakan tempat selain Gunung Merapi yang menjadi tempat diadakannya Labuhan. Namun Labuhan Merapi memiliki rangkain yang lebih lama dan kompleks ketimbang labuhan Parangkusumo.

Selain ditujukan sebagai peringatan naik tahta Sri Sultan, ada juga yang menyatakan kalau Labuhan Merapi terkait erat dengan sejarah Merapi lebih tepatnya sejarah mengenai penguasa Gunung Merapi. Maka dari itu Labuhan ini identik dengan Kyai Sapu Jagad, Empu Rama, Empu Ramadi, Krincing Wesi, Branjang Kawat, Sapu Angin, Mbah lembang Sari, Mbah Nyai Gadhung Wikarti dan Kyai Mergantoro yang semuanya merupakan nama mitikal penguasa Merapi. Labuhan ini ditujukan untuk menghormati para penguasa tersebut dengan memberi berkah yang akan dibawa dari kediaman juru kunci Merapi sampai tempat diadakannya Labuhan.

Dalam konteks kekinian Labuhan Merapi juga ditujukan untuk memohon agar Gunung Merapi tidak meletus. Kedekatan masyarakat Jogja dengan meletusnya Gunung Merapi memang tak bisa terbantahkan, beberapa kali Gunung Merapi dengan wedus gembelnya yang terkenal itu mencemaskan warga sekitar Merapi. Bahkan diperkirakan letusan yang terjadi pada tahun 1006 selain membuat bagian tengah Pulau Jawa berselimut abu putih juga membuat Kerajaan Mataram Kuno harus pindah ke Jawa Timur.

Sejarah juga terus mencatat aktivitas Gunung Merapi beberapa kali mencemaskan warga yang tinggal di sekitar gunung tersebut. Terakhir gunung ini memperlihatkan tanda-tanda akan meletus pada tahun 2006 lalu. Pada saat gempa besar menimpa Jogja bahkan warga Jogja mengira hal itu dikarenakan Gunung Merapi meletus padahal nyatanya disebabkan karena gempa bumi dengan kekuatan yang besar.

Pada saat aktivitas Gunung Merapi mulai aktif di tahun 2006 pemerintah bahkan sudah mengintruksikan warga sekitar lereng untuk mengungsi. Namun Juru Kunci Gunung Merapi yakni Ki Surakso Hargo atau lebih dikenal dengan Mbah Marijan mengatakan bahwa aktivitas Merapi tak perlu dicemaskan.

Sejak saat itu pula nama Mbah Marijan mencuat ke publik, bahkan ia menjadi bintang iklan minuman energi dengan teriakan khasnya, “Roso!” yang berarti 'kuat' dalam Bahasa Indonesia. Labuhan ini tentunya ditujukan agar aktivitas Gunung Merapi yang berbahaya tidak terjadi lagi.

Rangkain Labuhan Merapi dimulai sehari sebelum para Abdi Dalem kawasan Gunung Merapi mendaki Gunung Merapi untuk memberi berkah tepatnya pada Senin 12 Juli lalu. Acara awal itu berupa seserahan secara simbolis Ubarampe dari Kraton Ngayogyakarta oleh seorang utusan yang ditunjuk Sri Sultan Hamengkubuwono X kepada Camat kawasan Cangkringan. Setelah Ubarampe diterima Camat maka akan dilanjutkan dengan menyerahkan Ubarampe kepada juru kunci Gunung Merapi yakni Mbah Marijan.

Ubarampe sendiri merupakan perlengkapan sesaji yang digabungkan dalam sebuah peti untuk labuhan. Ubarampe berbentuk seperti sebuah peti untuk mengangkut jenazah dengan panjang sekitar satu setengah meter. Ubarampe dicat merah dan dilapisi kain bercorak diatasnya. Diatas Ubarampe terdapat hiasan berbentuk tanduk berwarna emas. Pada saat Labuhan, Ubarampe akan digotong oleh beberapa Abdi Dalem sambil mendaki Gunung Merapi.

Isi Ubarampe sendiri terdiri dari barang-barang yang akan dilabuh. Ada lima jenis kain di Ubarampe yakni kain limar, destar (bahan untuk blangkon yang masih berbentuk kain), semekan gadung (kain berwarna hijau), gadung melati (berwarna hijau dengan list warna putih di ujungnya), dan peningset udaraga. Sementara barang-barang lain selain kain yang ada di Ubarampe antara lain wewangian, uang cindik (uang yang terbuat dari kain cindik dan hanya terdapat di Kraton), ratus (semacam rokok) dan lapak (pelana kuda).

Setelah upacara penyerahan Ubarampe selesai dilakukan, rangkaian Labuhan Merapi dilanjutkan dengan Kirab Budaya. Arak-arak ini dilakukan oleh Prajurit Gandungarum dari kawasan Kaliadem, Desa Ngrangkah kawasan lereng Gunung Merapi menuju rumah juru kunci Merapi Mbah Marijan yang bernama resmi Ki Surakso Hargo. Kirab budaya ini dilaksanakan pada pukul tiga sore di hari yang sama dengan penyerahan Ubarampe pada Mbah Maridjan. Pada malam harinya dilaksanakan kenduri wilujengan atau syukuran dengan hiburan Macapatan oleh Paguyuban Sekar Cangkring Manunggal di rumah Mbah Marijan.

Barulah esok paginya, pada tahun ini jatuh pada Selasa tanggal 13 Juli 2010, beberapa Abdi Dalem akan membawa Ubarampe dari kediaman Rumah Mbah Marijan menuju Kendit 2 atau lebih dikenal dengan Labuhan karena di tempat inilah Labuhan dilaksanakan. Kendit 2 sendiri pada hari biasa diperuntukan sebagai pos kedua pendakian merapi dari jalur Desa Cangkringan.

Sebelum membawa Ubarampe ke Kendit 2 diadakan semacam upacara pelepasan terlebih dahulu di Rumah Mbah Marijan. Semestinya perjalanan atau kirab membawa Ubarampe yang dilakukan oleh Abdi Dalem dan utusan dari Kraton dipimpin langsung oleh juru kunci Gunung Merapi.

Sayangnya pada tahun ini kondisi fisik Mbah Marijan yang mulai menua membuat dirinya tak lagi roso atau kuat untuk mendaki sampai ke pos 2 pendakian Gunung Merapi. Ditambah kondisi kesehatan Mbah Marijan yang tidak fit membuat dirinya urung untuk naik sampai Kendit 2 Merapi. “Untuk Labuhan di Kendit 2 Mbah Marijan tidak dapat ikut karena kondisinya belum fit pasca operasi hernia beberapa waktu yang lalu,” tutur putra Mbah Marijan menjelaskan kondisi fisik ayahnya. Pada kesempatan tahun ini anak Mbah Marijan-lah yang menggantikan posisi ayahnya untuk memimpin rombongan.

Setelah pelepasan oleh Mbah Marijan maka rombongan mulai menuju Kendit 2 tepat pada pukul enam pagi di hari Selasa yang amat dingin tersebut. Adalah sebuah perjalanan berat bagi Abdi Dalem untuk mendaki sampai ke Kendit 2. Banyak faktor yang membuat perjalanan para Abdi Dalem terasa berat. Pakaian lurik tipis yang mereka gunakan jelas membuat tubuh mereka harus bersahabat dengan suhu gunung Merapi yang amat dingin pagi itu. Ujian lain adalah mereka semua harus menggunakan selop sebagai alas kaki saat mendaki, padahal jalanan terjal bebatuan jelas tak bersahabat dengan sepatu tipis macam selop. Dan yang paling berat adalah mereka harus mendaki dengan mengangkut Ubarampe yang beratnya tak main-main karena terbuat dari kayu. namun diantara yang terberat adalah kewajiban mereka untuk tak boleh beristirahat saat menjalani kirab sampai ke Kendit 2.

Berhenti atau istirahat saat kirab merupakan hal yang tabu untuk dilakukan bagi para Abdi Dalem, tentunya hal itu sangat berat untuk dijalankan. Sebagai perbandingan penulis harus beristirahat sekitar lima kali karena jalur yang curam membuat kaki letih untuk melangkah.

Sedikit menguntungkan bagi para Abdi Dalem dan beberapa orang yang hendak menyaksikan ritual ini adalah jalur pendakian Merapi sebelumnya telah dibersihkan dari ilalang untuk kepentingan Labuhan. Upaya membersihkan jalan tersebut tentunya membuat perjalanan sedikit lebih mudah karena tanah menjadi tidak terlalu licin dan kaki menjadi tidak gatal karena tertusuk oleh ilalang. Di pinggiran jalan juga dibuat jalur lintasan air sehingga tak membuat jalan pendakian licin bila hujan turun. Namun tetap saja tak adanya ilalang dan dibuatnya jalur air tak banyak membantu karena curamnya jalur pendakian dan dinginnya hawa di pagi itu membuat beberapa wisatawan yang ingin melihat upacara Labuhan harus beristirahat beberapa kali. Raut muka beberapa wisatawan asing bahkan terlihat memerah karena keletihan mendaki.

Sekitar pukul delapan rombongan sampai di pos pemberhentian pertama yang merupakan pos 1 pendakian Merapi. Disana dilaksanakan ritual menaruh sesaji yang ditujukan untuk permisi bagi ‘penghuni’ di daerah sana. Doa-doa dan penaruhan sesaji berlangsung sekitar lima belas menit untuk kemudian rombongan Abdi Dalem melanjutkan perjalanan untuk melakukan acara inti melabuh di Kendit 2. Hanya di pos 1 pendakian merapi inilah para Abdi Dalem bisa beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan yang lebih berat lagi.

Ada perbedaan yang sangat mencolok antara pendakian dari kediaman Mbah Marijan menuju Pos 1 Pendakian Gunung Merapi dengan perjalanan dari Pos 1 menuju Kendit 2. Pendakian menuju Pos 1 akan sangat dibantu dengan pohon-pohon yang menutupi arah sinar matahari sehingga kita tak langsung menghadap matahari sementara perjalanan dari pos 1 menuju kendit 2 kita akan mengarah langsung ke matahari. Tentunya hal itu kurang menguntungkan karena selain membuat penglihatan silau hal itu juga akan membuat badan kita kegerahan walaupun hawa dingin masih terasa. Beberapa wisatawan saat menuju Kendit 2 dari pos 1 pendakian Merapi bahkan tampak membuka jaketnya untuk menghindari tubuhnya kegerahan. Sedikit tak enak memang rasanya ketika badan berkeringat terkena matahari di tengah suhu gunung yang dingin.

Saat menuju Kendit 2 yang juga menjadi masalah adalah jalanan mulai berbelok-belok. Di Pos 1 jalanan memang curam namun arahnya biasanya lurus dan tak berbelok-belok sementara setelah pos 1 kita harus menemui jalanan curam yang berbelok-belok. Jalanan berbelok tentu akan sangat menyulitkan bagi beberapa Abdi Dalem yang menggotong Ubarampe.

Setelah melewati beberapa tanjakan curam yang berbelok rombongan Kirab Labuhan sampai di Kendit 2 sekitar pukul pukul 09.30. Kendit 2 sendiri yang sehari-hari dijadikan Pos 2 Pendakian Gunung Merapi luasnya sama dengan dua kali lapangan badminton. Gerbangnya berbentuk seperti gerbang-gerbang khas arsitektur Jawa dengan susunan yang bertingkat-tingkat. Kita misalnya bisa menemui gerbang semacam ini di pelataran gerbang Masjid Agung Kotagede, Jogja. Tepat di depan gerbang Kendit 2 Merapi kita akan menemui sebuah batu besar dengan ukiran logo Kraton Jogja di permukaannya. Batu besar ini lebih tinggi sekitar satu meter dari tinggi orang dewasa dengan ukiran logo Kraton tepat di tengahnya.

Di belakang batu besar berukir logo Kraton Jogja terdapat semacam pendopo yang digunakan untuk menaruh Ubarampe dan sajian-sajian untuk Labuhan. Di kiri dan kanan pendopo terdapat dua buah bangunan kecil dari kayu untuk menaruh sesaji ketika upacara dilakukan. Bangunan tersebut tingginya kira-kira setinggi betis orang dewasa.

Ubarampe diletakkan di pendopo utama, kemudian kelima jenis kain yang terdapat di dalamnya digelar berjajar di pendopo ini. Di bawah jajaran kain tepatnya di anak tangga pendopo berjejer beberapa peralatan yang digunakan untuk seserahan. Setelah semua bahan untuk sesaji disiapkan maka upacara Labuhan pun dimulai. Doa-doa mulai dipanjatkan agar Gunung Merapi tidak menampakkan aktivitas yang membahayakan.

Selesai memanjatkan doa-doa Abdi Dalem kemudian menyiapkan berkah yang akan diberikan pada para warga dan wisatawan yang ikut menyaksikan upacara Labuhan Merapi. Berkah tersebut ditujukan agar para penerima berkah ikut mendoakan agar Gunung Merapi tak meletus. Bentuk berkah itu sendiri sangat sederhana, hanya sekitar tiga sendok makan nasi putih dengan ayam goreng yang dipotong kecil-kecil atau dalam istilah Jawa disuwir. Nasi dan ayam itu kemudian dimasukkan dalam plastik bening yang biasa digunakan untuk membuat es batu. Setiap pengunjung akan diberikan satu bungkus berkah tersebut ketika akan pulang.

Setelah semua pengunjung pulang barulah seorang atau beberapa utusan yang telah ditunjuk dari Kraton membawa berkah menuju puncak Merapi. Seorang Abdi Dalem yang mengantar menuturkan bahwa si utusan baru akan berangkat menuju puncak Merapi ketika semua pengunjung sudah pulang terlebih dahulu. “Nunggu semua yang ada pulang dulu, ya ibaratnya tidak enak kalau masih ada tamu terus ditinggal,” tuturnya. Sementara Abdi Dalem lainnya akan turun kembali sambil membawa Ubarampe.

Sekitar pukul 10.30 kegiatan Labuhan Merapi selesai, Abdi Dalem yang mengangkut Ubarampe turun terlebih dahulu disusul oleh beberapa Abdi Dalem lainnya. Kabut putih yang amat tebal tadi pagi sudah tak tampak lagi ketika rombongan Abdi Dalem tiba kembali di kediaman Mbah Marijan. Dari Masjid yang terletak sekitar tiga ratus meter dari kediaman Mbah Marijan tampak Mbah Marijan sedang mengambil air wudhu untuk melaksanakan Sholat Dzuhur. Lamat-lamat tampak ia berdoa setelah wudhu, di depannya Gunung Merapi berdiri dengan indahnya.

Labuhan Merapi yang rutin diadakan setahun sekali memberi gambaran jelas tentang bagaimana manusia menghormati alamnya. Ini bukan sekedar ritual biasa, ribuan jejak kaki yang dilalui dari kediaman Mbah Marijan sampai tempat dilaksanakannya Labuhan Merapi membawa kita pada perenungan lebih dalam mengenai relasi alam dengan manusia. Manusia hanya bisa berharap dan berusaha namun bila alam berkehendak lain tentunya ceritanya akan berbeda.
 
ISLAM NYA BAGAIMANA
Terlihat tokoh budaya jawa di atas rupanya belum rela masuk Islam secara menyeluruh, masih separo-separo, mereka menyembah Allah tetapi juga menyembah berhala dengan ritual yang sangat jelas tidak sesuai dengan ajaran Islam. Mereka masih memeganng erat-erat budaya kemusrikan.dan separo tertarik masuk surga, separo percaya dengan janji Allah SWT.

Apa mereka tidak membaca Al Qur'an dan Hadist. Misalkan membaca apa mereka mengerti . Mereka ini ada Sultan, ada para punggawa kerajaan ada tokoh masyarakat. yang nota mereka menyatakan Muslim tetapi kok masih praktek budaya MUSRIK. dan takut pada makluk penunggu gunung, penunggu laut. dan mereka di saksika Allah SWT. (sultan raja pemimpin budaya musrik di jogja ?), bagaimana dengan acara adat budaya orang nganjuk di Air terjun sedudo.. saya kira sama saja ...itu musrik.
MUSRIK adalah dosa yang tak di ampuni oleh ALLAH SWT.

PASAR ATOM SURABAYA

Pasar Atom: The Color of Food


text & photo by Ayos Purwoaji
food database by Winda Savitri
________________________

Ah ah program Surabaya Heritage Trip akan kita mulai dari sini: Pasar Atom! wahaha mengapa eh mengapa? karena pasar ini cukup tua dan legendaris. selain itu, alasan utama Hifatlobrain memilih pasar ini karena pasar ini memuat banyak rahasia jajanan menarik yang pantas untuk diulas! yup kita bakal treasure hunt di sini.

Pasar atom itu letaknya deket sama ITC. Gak susah dicari, pasti kalo orang Surabaya aseli bakal tau. ndak usah bingung dan gundah gulana, tanya aja ama orang pasti ketemu! Pasar atom sendiri ada dua bagian, pasar atom lama dan pasar atom baru. Kalo pasar atom baru udah mirip sama mall. sudah gak ada nostalgianya, gak asik. Saya pun memilih untuk mengitari pasar atom lama.

Pasar ini bangunannya tinggi, mungkin 5 lantai kalo saya gak salah itung. lantai atap ada kolam renangnya. biasanya sih yang make para muda-mudi remaja kapuk yang masih bau terasi. kalo perenang profesional pasti makenya kolam renang KONI soalnya, hehehe.

Pasar atom itu menurut saya kayak gado-gado. banyak ragam hal yang dijual. mulai dari makanan sampe baju. mulai dari jajanan sampe perlengkapan sembahyang orang tionghoa. uuh lengkap nian. buat anda-anda yang hobi shopping, tentu jangan melewatkan shopping experience di pasar atom. pasti beda. pengunjungnya juga beragam, ada orang cina, jawa sama arab. campur bawur menambah semarak pasar atom yang memang sudah warna-warni itu. saya sendiri yang bertampang afrika juga menambah indahnya keragaman budaya itu. wehehehe.

suatu saat, Ruli, sahabat saya mengatakan bahwa pasar atom itu banyak makanan menarik. gorengannya gede-gede, cakuenya juga mantap, apalagi keripik-keripik yang dijamin crunchy. hah, saya pun langsung merencanakan city trip ini, alhamdulillah mbak kontributor sudah lebih dulu mengenal lokasi-lokasi menarik di pasar atom. jadilah kita berangkat.

selama di pasar atom banyak hal yang bisa dilihat. banyak juga panganan yang bisa diicip. jika saja Anda tekun untuk mencicipi deretan makanan yang ada, niscaya Anda bakal kenyang sebelum membeli. sayang itu tidak saya lakukan, secara saya adalah seorang cowok dengan martabat dan tatakrama keraton solo. huhuhu...

Saya pun banyak membeli makanan. pertama saya beli kue mochi semarang. bentuknya bulat sedang, empuk bertabur gula putih, isinya kacang, teksturnya lembut lengket. enak. saya juga beli permen kenyal mirip yuppi yang warna-warni. buat oleh-oleh anak-anak ITS Online. teksturnya yang kenyal enak buat digigit-gigit, apalagi taburan gula pasir di atasnya membuat gigi ini gemeletuk manja. hahaha.

Mbak kontributor sendiri menyempatkan diri untuk beli manisan mangga. enak. asem-manis gimanaa gitu. entah mengapa ia memilih makanan yang asam. saya kok jadi sedikit curiga ya... wehehehe no offense bung! mbak kontributor juga beli bakwan paneleh yang enak sekali. crunchy dan gurih. ada aroma seafoodnya juga.

setelah asyik food hunting, kita minum es teler di foodcourt. uuhh ternyata es telernya benar-benar membuat teler karena porsinya yang gede. jadi saya sarankan untuk tidak beli jika belum benar-benar haus!

humm, jadi buat anda para penyuka city trip, tak ada salahnya mencoba pasar atom sebagai salah satu rujukan. kalo mau shopping baju juga bisa kok. harganya cukup murah meriah. kalo anda masih jomblo pastikan anda bawa kamera karena bakal ada banyak manekin-manekin cantik yang bertebaran. kali aja situ bisa naksir manekin. lumayan gak usah ntraktir nonton sama makan. hemat brur! hahahaa.


harga makanannya:

kue mochi semarang 15000/kardus sekitar 20 biji
permen yuppi pasar 10000an/ons
bakwan paneleh 1000an/biji
manisan mangga 15000an/ons

mmm seingat saya sih harganya segitu -CMIIW-


oke selamat jalan-jalan dan makan-makan!



pesan seponsor:
dukunglah program
Surabaya Heritage Trip
by Zusri

Jumat, 26 November 2010

Lounching Warnet Calvataro

Hemm. lega dikit sudah... wujud ku tampil di diperhelatan dunia maya .. ada banyak referen berkecamuk dalam kepala ini. yang berputar ..dan berlama dalam merajut simpul ide yang bertebaran. yang muncul tiba2 di waktu jaga, tidur, melamun, dan setengah tidur setengah jaga. kadang di tengah perjalan keluar kota sinyal tentang apa yang akan aku lakukan salalu berputar dengan andai ini andai itu..seperti sedang belajar exell .. aku menghitung kemana langkah yang haris diajalankan..ya itulah singal-sinyal ide, dan impian2 ... rasanya ingin di keluarkan semua biar mata tak terpejam melihat image di balik otak, tetapi mata bisa melihat nyat dan tangan bisa menyentuh. kongret. ini langkah kedua ku setelah dari kota batu yang dingin itu(1998-2002). aku jalankan misi bawa sadarku.
sekarang nol kilometer sudah aku tandai
perjalanan masih jauh rupanya.
moga saja yang sedikit ini aku sukuri saja



Nganjuk, 27 Nov 2010 

Yusri Orb
- pasuruhan - kediri - kertosono - nganjuk - malang - batu - jakarta -